Gemini_Generated_Image_92ai1692ai1692ai-compressed
Layar, Kitab, dan Jiwa Anak Kita Di balik harapan yang kita titipkan ke pesantren, ada pertanyaan yang jarang kita tanyakan: apakah anak kita baik-baik saja?

Setiap Jumat sore, di sebuah pesantren di pinggiran Aceh, para santri diperbolehkan memegang ponsel selama dua jam. Waktu yang seharusnya cukup untuk menelepon orang tua, kabar-kabari, sedikit tertawa. Tapi yang sering terjadi adalah diam — layar menyala, ibu jari bergerak cepat, mata terkunci pada konten yang berganti setiap tiga detik.

Seorang ustaz di sana pernah bercerita kepada saya: “Dua jam itu selesai, mereka kembali ke kamar. Tapi pikirannya tidak ikut kembali. Besoknya, waktu mengaji, matanya kosong.”

Apa yang ia gambarkan bukan keluhan biasa. Ia sedang mendeskripsikan sesuatu yang kini diakui oleh tujuh puluh persen pakar pendidikan dalam sebuah tinjauan riset global dari Consensus: paparan layar yang berlebihan secara nyata menurunkan kemampuan anak untuk mempertahankan fokus. Bukan karena anak malas. Bukan karena gurunya kurang menarik. Tetapi karena otak mereka, tanpa disadari, sedang dilatih untuk tidak sabar.

“Layar melatih otak untuk selalu mengharapkan stimulus baru setiap beberapa detik. Kitab kuning — atau buku teks mana pun — tidak bekerja seperti itu.”

Ketika Otak Belajar untuk Tidak Sabar

Cara kerja media sosial dan konten pendek dirancang untuk satu hal: membuat kita terus menggulir. Setiap video baru, setiap notifikasi, memicu pelepasan dopamin kecil di otak. Lama-kelamaan, otak anak — yang masih dalam fase pembentukan — mulai terbiasa dengan ritme stimulus yang sangat cepat ini.

Masalahnya, belajar tidak bekerja dengan cara itu. Menghafal, memahami konsep, membaca teks panjang — semua ini membutuhkan apa yang para ilmuwan sebut sebagai “fokus berkelanjutan”: kemampuan untuk bertahan dalam satu tugas meski tidak ada hadiah instan. Dan itulah yang perlahan terkikis.

Bagi santri, dampaknya terasa ganda. Di satu sisi, mereka harus menguasai kitab-kitab yang ditulis tanpa tanda baca, tanpa gambar, tanpa animasi. Di sisi lain, setiap kali mereka menyentuh ponsel — meski sebentar — otak mereka kembali dilatih untuk tidak sabar. Dua dunia ini berbenturan, dan yang kalah biasanya adalah kemampuan belajar.

Lebih dari Sekadar Nilai: Apa yang Riset Pesantren Temukan

Seorang peneliti di Aceh pernah duduk bersama 169 santri remaja, dan bertanya bukan tentang nilai mereka, tetapi tentang perasaan mereka. Pertanyaan sederhana: seberapa puas kamu dengan hidupmu? Seberapa sering kamu merasakan emosi positif dibanding emosi negatif?

Hasilnya mengejutkan — atau mungkin tidak. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara tekanan akademik dan apa yang para psikolog sebut sebagai subjective well-being: rasa sejahtera yang dirasakan seseorang dari dalam dirinya sendiri. Semakin berat tekanan belajar yang dirasakan santri, semakin rendah rasa bahagia dan kepuasan hidup mereka.

Ini bukan temuan yang bisa diabaikan. Remaja dengan kesejahteraan jiwa yang rendah lebih rentan terhadap kecemasan, kelelahan kronis, bahkan depresi. Dan yang membuat lingkaran ini terasa kejam: ketika jiwa mereka lelah, kemampuan belajar mereka pun ikut runtuh. Nilai turun. Tekanan bertambah. Jiwa makin lelah.

Riset lain yang menelusuri mengapa sebagian santri memilih untuk keluar dari pesantren menemukan jawaban yang jarang dibicarakan terang-terangan: bukan karena mereka tidak cerdas, dan bukan pula karena mereka tidak religius. Alasan utama yang muncul adalah aturan yang terasa terlalu ketat tanpa ruang untuk bernapas, dan rasa tidak cukup kuat secara mental untuk bertahan.

“Anak kita tidak butuh kita untuk tahu semua jawabannya. Mereka butuh tahu bahwa ada tempat aman untuk mengajukan pertanyaan.”

Dua Ancaman, Satu Anak

Pada titik ini, mungkin Anda mulai melihat benang merahnya. Screen time yang berlebihan dan tekanan akademik yang tidak dikelola bukanlah dua masalah yang berdiri sendiri. Mereka saling mengunci.

Anak yang jiwanya tertekan akan lebih mudah berlari ke layar sebagai pelarian — karena di sana ada kesenangan instan, tanpa tuntutan. Dan anak yang sudah terbiasa dengan kesenangan instan itu akan semakin sulit duduk menghadapi pelajaran yang menuntut kesabaran. Siklus ini berputar pelan-pelan, tidak terasa, sampai tiba-tiba orang tua mendengar kalimat yang mereka tidak siapkan jawabannya: “Anak saya tidak mau kembali ke pesantren.”

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua: Dari Hal-Hal Kecil

Kabar baiknya — dan ini bukan sekadar penghiburan — adalah bahwa posisi orang tua dalam semua ini lebih strategis dari yang kita kira. Bukan sebagai pengawas. Bukan sebagai penegak aturan. Tetapi sebagai pelabuhan.

Saat anak pulang pesantren untuk liburan, ada godaan besar untuk membiarkan mereka “beristirahat” dengan bebas bermain gawai sepuasnya. Dan itu wajar — mereka memang butuh istirahat. Tetapi pertimbangkan untuk membuat satu kesepakatan sederhana di hari pertama: tidak ada layar dulu. Hanya ngobrol, makan bersama, tidur siang. Bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai cara untuk membiarkan otak mereka “turun kecepatan” dari ritme pesantren sebelum masuk ke ritme layar.

Yang lebih penting dari mengatur waktu layar adalah membangun saluran komunikasi yang aman. Tanyakan bukan hanya “Nilainya bagaimana?” tetapi “Ada yang bikin kamu capek di sana?” atau “Kamu senang tidak?” Pertanyaan seperti ini tidak membutuhkan jawaban panjang. Tapi ia membuka pintu.

Waspadai tanda-tanda yang sering dianggap sepele: anak yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam setelah kembali dari pesantren, yang sering mengeluh sakit tanpa sebab medis yang jelas, atau yang selalu mencari alasan untuk tidak kembali. Ini bukan kenakalan. Ini bisa jadi sinyal bahwa jiwanya sedang tidak baik-baik saja.

Dan bila pesantren tempat anak Anda belajar memiliki program konseling atau konselor sebaya (peer counsellor), dukung dan tanyakan perkembangannya. Riset merekomendasikan program semacam ini sebagai salah satu cara paling efektif untuk membantu santri mengelola stres — bukan hanya karena mereka mendapat bantuan, tetapi karena mereka belajar bahwa meminta bantuan adalah hal yang wajar.

Harapan yang Utuh

Orang tua yang menitipkan anak ke pesantren biasanya membawa harapan yang besar dan mulia: anak yang berilmu, berakhlak, dan siap menjadi pemimpin. Tidak ada yang salah dengan harapan itu.

Hanya saja, harapan yang besar perlu disertai perhatian yang setara. Anak kita tidak hanya butuh hafalan yang kuat dan nilai yang bagus. Ia butuh jiwa yang sehat untuk menopang semua itu. Dan jiwa yang sehat tidak tumbuh dengan sendirinya — ia tumbuh di antara percakapan yang jujur, istirahat yang cukup, dan orang tua yang mau bertanya lebih dari sekadar “rapor-nya bagaimana.”

Layar akan terus ada. Tekanan akademik tidak akan menghilang. Tapi anak kita punya kita — dan itu, jika digunakan dengan sungguh-sungguh, adalah keuntungan yang tidak dimiliki algoritma mana pun.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait